BEKASI -
Aksi demonstrasi Forum Silaturahim Masjid dan Mushola (FSMM) warga Duta
Harapan, Telaga Mas, Bekasi Utara di Kantor Walikota berakhir buntu.
Usai menemui
Walikota Bekasi DR Rahmat Effendi atau akrab disapa Pepen, Ustadz Abdul
Kadir Aka dari FPI Bekasi Raya menyatakan bahwa hasil pertemuan menemui
titik buntu (status quo).
"Telah
berlangsung negosiasi yang cukup alot karena kita minta cabut (izin
pendirian Gereja Santa Clara). Namun Pepen ga mau. Sampai menghasilkan
dua point, yaitu ada kesepakatan pertama bersifat Status quo dan tidak
ada kegiatan. Yang kedua, verifikasi ulang." ujar Ustadz Abdul Kadir
Aka.
Ia menambahkan,
"Artinya Walikota Pepen pasang badan. Dia pasang badan, walau ditembak
kepala saya tidak akan saya cabut", ujar Ustadz Aka menirukan
perkataan Rahmat Effendi.
Tak Ada Manipulasi Data, IMB Gereja Santa Clara Sah Secara Hukum
Walikota Bekasi bersikukuh tidak akan mencabut IMB Gereja Santa Clara karena prosedur IMB tersebut sudah benar dan sesuai seperti yang disyaratkan.
“Pemkot rekomendasikan tidak ada kecacatan hukum dalam proses perizinan Gereja Santa Clara, namun untuk sementara dalam status quo,” kata Rahmat Effendi.
Sekretaris Forum Komunikasi Umat Beragama Kota Bekasi, Hasnul Khalid,
mengatakan pihaknya sudah memberikan rekomendasi ihwal pembangunan
Gereja Santa Clara di Kecamatan Bekasi Utara, karena semua prosedur
sudah ditempuh pihak gereja.
"Kami sudah verifikasi ke lapangan," kata Hasnul, Selasa, 11 Agustus 2015. Hasilnya, sejumlah persyaratan terpenuhi. Antara lain izin ke warga di lingkungan sekitar gereja minimal 60 orang, serta jemaat gereja minimal 90 orang.
Verifikasi di lapangan dengan cara mengecek satu per satu warga berikut identitasnya. Hasilnya cukup valid, tak ada manipulasi data selama proses pembuatan izin tersebut. "Kami foto semuanya," kata Hasnul.
"Kami sudah verifikasi ke lapangan," kata Hasnul, Selasa, 11 Agustus 2015. Hasilnya, sejumlah persyaratan terpenuhi. Antara lain izin ke warga di lingkungan sekitar gereja minimal 60 orang, serta jemaat gereja minimal 90 orang.
Verifikasi di lapangan dengan cara mengecek satu per satu warga berikut identitasnya. Hasilnya cukup valid, tak ada manipulasi data selama proses pembuatan izin tersebut. "Kami foto semuanya," kata Hasnul.
Diduga para pendemo Gereja Santa Clara bukan berasal dari warga sekitar
Gereja Santa Clara karena warga sekitar sudah menyetujui dibangunnya
gereja tersebut.
Menurut dia, di tingkat kelurahan dan kecamatan juga dibentuk tim rencana pembangunan itu. Hasilnya, menyetujui dibangun Gereja Santa Clara di RW 6, Kelurahan Harapan Baru, Bekasi Utara. Terakhir, perizinan dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Bekasi. "Semua sudah melalui prosedur, tak ada masalah," kata dia.
Hasnul membantah isu yang dihembuskan ormas Islam bahwa gereja yang akan dibangun tersebut merupakan terbesar se-Asia Tenggara. Adapun, lahan yang dipakai seluas 6.000 meter persegi, sedangkan yang dipakai bangunan gereja hanya mencapai 1.500 meter persegi. "Lagi pula di Bekasi Utara belum ada gereja katolik, sementara jumlah jemaat sekitar 2.000-an," kata dia.
Soalnya, selama ini masyarakat beragama Katolik di daerah Bekasi Utara beribadah di rumah-rumah atau ruko. Dengan adanya, gereja itu, para jemaat Katolik bisa ditertibkan dan pindah ke gereja. "Kalau ibadah di rumah dan ruko, rentan terjadi gesekan," kata dia.
Walaupun begitu
kalangan ormas Islam menuding pihak Gereja Santa Clara telah
memanipulasi tanda tangan warga sekitar. Mereka bersikukuh jika IMB
Santa Clara itu harus dicabut bagaimanapun caranya.
"Alasan kami menolak pembangunan gereja tersebut, karena Gereja Santa
Clara berdiri di antara umat muslim, tak ada satu pun umat Katolik di
sana. Telah memanipulasi data persoal perizinan," ujar koordinator
demonstrasi, Taslim Hidayatullah.
Padahal fakta di lapangan,
jumlah umat Gereja Katolik Santa Clara, Paroki Bekasi Utara mencapai
12.500 jiwa dan hingga kini belum memiliki gereja sendiri.
Sungguh alasan takut kristenisasi
adalah alasan yang konyol dan tak berdasar. Perlu diketahui, Gereja
Santa Clara dibangun sebagai tempat ibadah bagi sekitar 12 ribu umat
Katolik yang hingga saat ini belum memiliki gereja.
“Umat Santa Clara sekarang 12.500 jiwa dan sekarang tidak mempunyai gereja,” kata seorang umat Gereja
Santa Clara yang menjaga di sekitar lahan Gereja Katolik Santa Clara.
Ormas Islam menolak berdirinya Gereja Santa Clara karena takut jika ada
gereja di tengah-tengah pesantren akan membuat akidah umat islam
tergoncang dan menjadi murtad.
Ustadz Aang
Kunaifi, tokoh Islam Bekasi Utara selaku perwakilan dari pengasuh Pondok
Pesantren At-Taqwa yang didirikan oleh Almarhum KH Noer Ali,
menjelaskan, bahwa pembangunan Gereja Santa Clara yang berada di tengah
perkampungan Muslim dan pondok pesantren sangat meresahkan warga.
“Kalau mereka
membangun Gereja Santa Clara motivasinya apa? Gereja Santa Clara itu
terletak di antara pesantren At-Taqwa dan pesantren An-Nur, itu
pesantren besar di Bekasi Utara, di tengah-tengah bercokol gereja besar,
itu yang membuat masyarakat gerah dan menolak, agar Santa Clara ini
tidak diizinkan berdiri,” ujarnya di sela-sela aksi demonstrasi menolak
Gereja Santa Clara.
Ustadz Aang juga menuduh jika di balik pembangunan Gereja Santa Clara terdapat aksi pemurtadan Kristenisasi berkedok kegiatan sosial.
“Dengan adanya
kepedulian sosial tapi ternyata mereka di dalamnya menyanyi lagu-lagu
gereja, anak-anak kecilnya, pembagian sembako kepada orang dhuafa,
ternyata di dalamnya ada misi. Sama seperti kita membangun masjid,
bagaimana orang yang tadinya tidak shalat jadi shalat. Seperti mereka
juga membangun gereja, ketika gereja mereka bangun pasti misinya
Kristenisasi,” jelasnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar