Gereja yang Bermasyarakat dan Bernegara
Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati
Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati
Gereja
adalah persekutuan orang beriman yang hidup di tengah-tengah kehidupan
bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di dalam dunia yang
menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama. Dunia
yang dimiliki oleh masyarakat yang majemuk dan pluralistik.
Namun
demikian, Gereja juga merupakan suatu lembaga keagamaan yang mempunya
tempat dan peranannya dalam masyarakat, sehingga sebagai keseluruhan,
Gereja juga dituntut untuk memperlihatkan Spiritualitas Hati Yesus yang
lembut dan murah hati kepada masyarakat secara luas. Hal itu dapat
terjadi apabila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat.
Dan penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan
iman, dan sebagai pengungkapan iman.
Perwujudan
iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja, berarti partisipasi
kelompok-kelompok atau organisasi Katolik dalam usaha pembangunan dan
perkembangan masyarakat. Dalam usahanya tersebut, Gereja harus mampu
mempraktikkan pelayanan Kristus yang lembut dan murah hati dan
ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang umum. Meskipun seringkali hal
tersebut dinilai sebagi usaha ”kristenisasi”, sesungguhnya tidak ada
sesuatu yang khas Kristiani, selain semangat pengabdiannya yang
berdasarkan pada spritualitas Yesus yang lembut dan murah hati.
Sementara
itu, hubungan antara Gereja dan negara didasarkan pada pengakuan satu
sama lain tentang kedudukan masing-masing. Gereja mengakui otonomi
negara di bidang hidup bermasyarakat demi kesejahteraan rakyat
seluruhnya. Namun demikian, Gereja menyadari panggilannya dan ingin
mempunyai keleluasaan demi kesejahteraan semua dan masing-masing warga
masyarakat, dan demi keselamatan manusia secara sempurna, melayani
kebutuhan mereka, terutama yang bersifat rohani, tetapi juga yang
bersifat jasmani demi perkembangan mereka secara menyeluruh.
Hubungan
Gereja dengan negara tidak melulu, bahkan tidak terutama berlangsung di
tingkat institusional atau kelembagaan, tetapi juga dalam bekerjasama
dengan semua golongan dan masyarakat dan pemerintah demi kesejahteraan
seluruh bangsa.
Dalam
rangka hubungan antara Gereja dan negara, Gereja berharap agar dalam
usaha pembangunan, Gereja mampu melihat peranannya yang khas dalam usaha
membangun mentalitas sehat, memberi motivasi yang tepat, kuat serta
mengena, membina sikap dedikasi dan kesungguhan, menyumbangkan etika
pembangunan serta memupuk sikap optimistis dan membangun sikap kritis
konstruktif.
Selain
itu, sesuai dengan perutusan Kristus, Gereja merasa solider dengan kaum
miskin, lemah dan tersingkir. Bersama-sama dengan negara maupun secara
pribadi, Gereja membantu mereka yang mau tanpa membedakan latar belakang
mereka. Di sinilah kelihatan perwujudan spritualitas Yesus yang lembut
dan murah hati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar